[Review Buku] Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Januari 08, 2014



Judul   :   Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis  :   Tere Liye
Penerbit   :   Penerbit Republika 
Tahun Terbit   :   Februari 2009
Tebal Buku   :   426 hlm

Seperti 'membaca' film. Ya, inilah kesan pertamaku saat selesai membaca novel ini. Bergaya alur maju mundur, pembaca dibawa menyelami perjalanan kehidupan sang tokoh utama dalam novel ini. Tak seperti novel lain yang mempunyai alur serupa, alur dalam novel ini terkesan 'kreatif' menurutku. Entahlah, aku memang seperti sedang menonton film saat membaca bab per bab novel ini. Menceritakan seorang Rehan Raujana alias Ray yang diberi kesempatan saat ia sedang sekarat sakit untuk melakukan perjalanan mengenang masa lalu sejak ia kecil sampai ia tua dan sakit-sakitan. Dalam kesempatan itu ia didampingi oleh 'orang berwajah menyenangkan' yang akan membantu dia menemukan lima jawaban atas lima pertanyaan terbesar dalam hidup Ray. 


Kehidupan Ray sejak kecil sungguh memilukan. Hidup tanpa orang tua, dibesarkan di panti yang tak menyenangkan sehingga tumbuh menjadi seorang pemberontak lalu memutuskan untuk kabur dari panti. Sekeluarnya dari panti dimulailah petualangan hidup Ray. Ia menjadi pencuri dan preman di terminal hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit di ibukota karena dikeroyok oleh preman lain. Di Ibukota ia mendapatkan kehidupan baru. Ia ditampung dan menetap di Rumah Singgah yang berisi anak-anak jalanan yang mempunyai mimpi-mimpi besar dan berbakat. Di sana ia merasa menemukan keluarga yang sebenarnya. Tempat ia belajar, bercanda, berbagi dan saling memberi arti. Ia mulai belajar di sekolah informal dan mengamen bersama temannya dari bis ke bis. Namun satu persatu masalah muncul menimpa teman-temannya di Rumah Singgah, menyeret nama Rey hingga ia terpaksa keluar dari Rumah Singgah itu. 

Ray pindah ke sebuah rumah petak dan berkenalan dengan Plee, seorang 'pedagang' yang tinggal di sebelah rumah petaknya. Berawal dari perkenalan itu ia terlibat sebuah kasus besar: pencurian berlian seribu karat. Aku menduga pencurian itu akan berhasil karena Plee sudah cukup profesional dalam urusan curi-mencuri dan sama halnya dengan Ray yang cerdas dan cekatan dalam melakukan aksinya saat malam beraksi itu. Sayangnya dugaanku meleset. Plee tertangkap polisi dan harus berakhir di tiang gantungan sementara Ray terselamatkan oleh Plee. Kalimat yang memorable dalam bab ini adalah Apapun yang terjadi besok kita akan menjalaninya bersama. Tidak ada yang tertinggal. Tapi andaikata salah seorang dari kita tertangkap, maka tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. Tutup mulut, mengaku melakukannya sendirian.

Ray memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah peristiwa itu. Inilah menurutku episode-episode terbaik dalam seorang Ray karena di sini penulis 'menakdirkan' kebahagiaan demi kebahagiaan untuknya. Hidupnya mulai berubah. Dari awalnya hanya seorang buruh bangunan kemudian lama kelamaan menjadi kepala mandor. Berkat kecerdasan dan keterampilannya. Layaknya seorang manusia biasa, Ray jatuh cinta pada Fitri, seorang gadis yang ternyata ahh aku rahasiakan biar baca sendiri deh. Di awal-awal masa PDKT Ray, ada 'adegan' yang mirip dengan adegan di film India hehe Ray dan Fitri kemudian menikah. Masa-masa terindah dalam hidup Ray. Karir yang menanjak. Istri yang baik. Materi yang mulai bergelimangan. Sempurna.

Mungkin memang hidup Ray yang ngenes, ia kembali diberi cobaan oleh Tuhan. Istrinya meninggal setelah sebelumnya mengalami keguguran dua kali. Ray sangat terpukul atas peristiwa itu hingga ia memutuskan untuk pindah ke ibukota. Bermodalkan berlian seribu karat yang ternyata disimpan oleh Plee di sebuah tower air, Ray memulai imperium bisnisnya. Menjadi seorang yang sangat kaya. Pengusaha sukses. Seperti janji awalnya pada sang istri, ia membangun sebuah gedung berlantai 40. Gedung tertinggi yang pernah ada. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun saat imperium bisnisnya semakin menggurita Ray mulai jatuh sakit. Sakit yang berkepanjangan. Komplikasi kata dokter. Keluar masuk rumah sakit hingga akhirnya ia koma selama enam bulan.

“Apakah aku tidak memiliki kesempatan untuk memilih pada saat aku dilahirkan?”
“Apakah hidup ini adil?”
“Mengapa Tuhan tega mengambil milikku satu-satunya?”
“Mengapa aku merasa hampa padahal aku telah memiliki segalanya?”
“Mengapa takdir sakit mengungkungku, dan tidak langsung mati saja?”

Itulah lima pertanyaan besar dalam hidup Ray yang kemudian terjawab dalam perjalananan mengenang masa lalu itu. Banyak hal yang terkuak dan bikin aku ber-ooh ria. Banyak kata 'Ternyata' yang aku lontarkan kemudian. Seperti rantai ternyata jawaban-jawaban itu saling sambung menyambung dari masa lalunya sampai saat itu. Jawaban-jawaban yang menjelaskan sebab-akibat dari semua perbuatannya. Benar-benar sebuah perjalanan hidup yang luar biasa bagi seorang anak manusia. Satu hal yang menarik bagiku dalam novel ini, Ray diberi kesempatan hebat  untuk melakukan perjalanan mengenang masa lalu karena kebiasaannya memandang rembulan. Tanpa sadar ia selalu memuji rembulan saat ia memandangnya. Memuji rembulan yang membuat hatinya tenang. Dengan kata lain ia juga memuji sang pencipta rembulan. Meskipun ia selalu menyalahkan Tuhan atas semua kepahitan hidupnya.

Banyak hikmah yang aku dapatkan dari novel ini. Hidup itu ternyata memang benar-benar adil. Apa yang kita dapat merupakan apa yang telah kita lakukan. Kita yang menanam kita yang menuai. Setiap episode dalam kehidupan kita menjadi sebab-akibat bagi kita di masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Kita menjadi sebab bagi garis kehidupan orang lain. Begitu seterusnya. Kehidupan ini saling berkesinambungan. 
Tuhan memang adil. Ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Semuanya akan menjadi penerimaan yang baik ketika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tak hanya melulu melihat dari segi 'ingin, ingin dan ingin'. 

Stop pula untuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain seperti yang diungkapkan 'orang berwajah menyenangkan' : "Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. wajah seperti ini cantik, wajah seperti itu jelek. hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin. otak manusia yang terlalu pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar, yang disebut buku perbandingan." Betul! Hidup terlalu indah untuk dibandingkan-bandingkan. Belum tentu ketika kita telah memiliki kehidupan seperti orang lain kita akan bahagia. Bersyukur. Itulah kuncinya agar kita bahagia menjalani hidup ini. Dalam ayat-Nya pun telah diungkapkan: "..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S Ibrahim: 7)

Butuh empat hari buat membaca keseluruhan novel ini. Bermodalkan pinjem dari perpustakaan. Di awal-awal pertama bab aku masih pusing dengan jalan ceritanya tapi semakin halaman berlanjut aku mulai memahami dan menikmati jalan ceritanya. Cerita yang berliku-liku. Sarat makna. Taraaaa gak menyesal baca buku ini
milkysmile

Tere Liye pandai merangkai kata. Ini dia quote-quote yang menginspirasi dalam novel ini:


“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu.... Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.... Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.” ― Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

“Tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.”― Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu 

“Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, tahu persis apa yg hendak dicapainya, maka baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Dan sebaliknya.” ― Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih ya sudah baca artikelnya. Ayo berkomentar. Tinggalkan jejak di sini ^^

Subscribe