Eksplorasi Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Cidaon TNUK

Agustus 13, 2019

Lanjut yaa cerita KKL di UK, yang belum baca part 1 nya bisa klik di sini.

Hari ketiga di UK, kami bangun dengan perasaan excited karena kami bakal bertualang lagi ke pulau-pulau yang ada di wilayah TNUK. Ada sekitar 5 atau 6 (aku lupa) perahu yang bakal nganterin kami satu angkatan ke setiap pulau. Jam setengah 9an kami mulai siap-siap naik perahu dan berangkat. Aku satu perahu sama sahabat-sahabatku. Saat itu cuacanya cerah dan agak panas. Cusss perahu mulai bergerak. Perahu kami saling balapan sama perahu lain. Seru banget. Gak lupa kami foto-foto mengabadikan momen perjalanan di atas perahu.

Berangkat pake kapal ini
(Dok. penulis)

Temen-temen cowokku di perahu itu
(Dok. penulis)
Setelah hampir 45 menit perjalanan, sampailah kami di pulau pertama yaitu Pulau Handeuleum. Setelah melewati jembatan yang cukup panjang dari dermaga, kami disambut dengan pemandangan padang rumput dengan rusa eh apa kancil ya (?) yang dengan bebas ke sana kemari. Masuk lebih dalam lagi kami masuk ke hutan dengan pepohonan yang tinggi besar khas hutan hujan tropis. Kami mengeksplorasi berbagai flora yang ada di dalam hutan tersebut. Oya menurut petugas TNUK, nama Pulau Handeuleum diambil dari nama tumbuhan Handeuleum.

Dermaga kapan di Pulau Handeuleum
(Dok. Penulis)
Pulau Handeuleum
(Dok. Kamera Siti)


Hai kancil!
(Dok. penulis)

Kancilnya bebas berlarian ke sana kemari dan tertawa
(Dok. penulis)

Airnya cukup bening kan.
(Dok. penulis)
Sekitar jam 10.30 kami beranjak dari Pulau Handeuleum ke destinasi pulau selanjutnya yaitu Pulau Peucang. Menurutku Pulau Peucang lebih indah dibandingkan dengan Pulau Handeuleum tadi karena pasir pantainya yang putih bersih dan air lautnya jernih banget. Cukup lama kami ada di pulau ini. Sama seperti di Handeuleum, di Peucang ini ada rusa (atau kancil) yang berkeliaran tapi selain itu ada juga monyet-monyet yang berkeliaran dengan bebas dan cukup agresif. Gimana gak agresif coba, kan waktu itu kami makan siang di sebuah rumah di sana, eh nasi kotak punya Mega temenku malah diambil sama salah satu monyetnya huhu. Pokoknya berani banget itu monyet. Kami yang cewek-cewek pada waswas ada di sana haha. Penamaan Pulau Peucang berasal dari sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya yang biasa disebut oleh penduduk sekitar 'mata peucang'. Peucang juga dalam bahasa Sunda berarti kancil. Hmm mungkin karena di sini banyak kancil yaa.

Airnya jernih banget
(Dok. penulis)

Pantai Pulau Peucang
(Dok. penulis)

Dermaga perahu di Pulau Peucang
(Dok penulis)

Pulau Peucang
(Dok. penulis)

Monyet kau!
(Dok. Kamera Siti)
Matahari mulai di ufuk barat. Dari Pulau Peucang kami lanjut ke destinasi terakhir yaitu padang penggembalaan Cidaon. Tempat ini berupa hamparan padang rumput sabana yang luas dimana banyak satwa seperti banteng, sapi, kerbau, badak dan lainnya yang berkumpul mencari makan. Ada sebuah menara yang dijadikan sebagai tempat mengamati satwa-satwa tersebut di sana. Gak lama kami di sana karena hari sudah mulai gelap. Kami beranjak lagi menuju perahu dan pulang ke basecamp.

Mengamati satwa dari kejauhan di Padang Penggembalaan Cidaon
(Dok. Penulis)

Papan informasi di Cidaon
(Dok. penulis)

Daun Jaruju. Kata guide petugas TNUK nya sih ini makanan badak
(Dok. penulis)
Perjalanan pulang kali ini beda dengan perjalanan berangkat karena kondisi perairan ujung kulon sore itu cukup bergelombang yang membuat perahu kami terombang-ambing cukup kuat. Di samping waswas dan takut, kami terpesona dengan pemandangan sunset yang terpampang nyata. Kapan lagi menikmati sunset di atas perahu coba. Pantulan golden light di air keliatan indah banget. Saat aku mengamati air laut dari kejauhan aku liat ada benda mengapung yang membentuk garis lumayan panjang. Aku penasaran dong apa itu? Setelah perahu mendekat ke arah benda itu semakin keliatan ternyata itu adalah sampah-sampah yang mengapung. Subhanallah kaget aku saat itu juga. Di kawasan taman nasional yang gak ada penduduk itu ternyata mulai tercemari oleh sampah. Kayaknya sampah itu datang dari sungai yang ada pemukiman penduduknya. Ketika penduduk buang sampah ke sungai, sampah itu terbawa oleh aliran sungai sampai ke muara sungai di laut dan terbawa lagi oleh arus sampai tengah laut. Ckckckc itulah makanya jangan pernah buang sampah ke sungai karena akibatnya seperti ini. Laut TNUK ini indah lho. Jangan sampai tercemari oleh sampah. Miris akutu.

Pulaaaaangggg
(Dok. penulis)

Senja di TNUK
(Dok. penulis)

Berbahagialah wahai kau penikmat senja!
(Dok. penulis)

Laut TNUK tercemar sampah
(Dok. penulis)

Banyak sampah :(
(Dok. penulis)
Well, itulah hari ketiga kami di TNUK yang sangat mengesankan. Pulau-pulaunya masih bersih dan indah. Sebenernya kalo mau mengeksplor ketiga pulau itu dengan lebih dalam mending liburan pribadi jadi waktunya lebih leluasa dan panjang. Meskipun begitu, aku bersyukur bisa dikasih kesempatan datang ke TNUK. Tiga hari di sana berkesan banget. Selain eksplorasinya, hal yang paling mengesankan yaitu pas di basecamp. Kamar mandi di basecamp cewek itu ada tiga tapi airnya minim banget. Air dari kerannya kecil banget. Saking kecilnya tiap pagi pas mau mandi, kami harus nampungin air dulu di beberapa botol aqua. Makasih banget waktu itu Uni Rodhia udah baik banget mau nampungin air buat aku mandi. Mandi dengan air seadanya (yang penting ngilangin bau badan) dan sekamar mandi itu berdua sampai bertiga orang. Buat kami anak Geografi sih gak aneh lagi menghadapi fenomena kesulitan air bersih dan harus mandi barengan berdua bertiga hihi. Rasanya perjuangan banget buat nampung air selama tiga hari di basecamp itu. Belum lagi udaranya yang panas di kamar sampe harus berebutan deket sama kipas angin haha. Terus pas sesi makan itu kan sistemnya prasmanan, pasti tiap yang terakhir makan kebagiannya sedikit karena cowok-cowok suka duluan makan dan ambil makannya banyak huhu. Pokoknya suka duka KKL itu ada aja lah tapi seru bangeeeettttt. Oiya pasca KKL kan biasanya bikin laporan penelitian, tapi selain itu kami berinisiatif buat mengabadikan momen KKL kami ini lewat sebuah buku. Jadi kami bikin buku judulnya Eksotisme Taman Nasional Ujung Kulon yang isinya tentang eksotisme flora, fauna dan masyarakat sekitar TNUK. Semua mahasiswa angkatan 2012 termasuk aku ikut berkontribusi di buku tersebut dengan bikin artikel hasil observasi kami. Yeaayy seneng sih karena punya buku untuk pertama kalinya meskipun buku hasil keroyokan sama temen-temen yang lain.


Sampul depan buku
(Dok. penulis)
Sampul belakang buku
(Dok. penulis)
KKL Tahap 2 di TNUK ini adalah satu pengalaman KKL yang gak akan pernah aku lupain. Makanya pas denger berita gempa dan tsunami kemarin melanda Banten itu aku jadi keinget sama pengalaman KKL-ku karena sayang banget tempat seindah TNUK kena tsunami. Tapi ya sudah takdir Allah. Alam pasti bisa merecovery dirinya dengan baik. Semoga TNUK dan penduduk di sekitarnya baik-baik aja sekarang. Aaamiin.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih ya sudah baca artikelnya. Ayo berkomentar. Tinggalkan jejak di sini ^^

Subscribe