Gempa dan Kenangan Berserak di UjungKulon

Agustus 03, 2019


Hello!

Apa kabar? Udah lama gak nulis sejak mulai masuk kerja lagi. Di tengah kesuntukan dan kesibukan pekerjaan, aku sempetin nulis nih karena bosen banget. Rasanya pengen mencurahkan kepenatan lewat tulisan. Refreshing dikit hehe.

Kemarin magrib aku (dan orang lain juga) ngalamin gempa yang cukup besar. Bagi penduduk yang tinggal di wilayah rawan gempa kayak di Indonesia gini emang udah gak aneh sih kalo terjadi gempa (meskipun tetep takut juga ya kalo gempa terjadi haha) tapi gempa kali ini tuh cukup berkesan buatku. Kenapa berkesan? Jadi gini ceritanya!

Waktu itu abis magrib aku selesai mandi dan mau makan. Kebetulan aku lagi sendirian di rumah karena bundadari, teteh, aa ipar dan ponakan pergi ke Sukabumi nengokin adiknya aa ipar satu lagi yang kecelakaan. Aku gak ikut karena lagi gak enak badan. Pas mau ngambil makan, kedengeran suara dinding bergetar. Aku heran kok dindingnya bergetar ya, apa karena mau ada kereta api yang lewat tapi aku denger lagi  belum ada tanda-tanda kereta apinya udah deket gitu. Well fyi depan rumahku itu jalan kereta dan abis magrib itu jadwal kereta ngelewat dari Ciranjang ke Cianjur. Aku masih bingung ini gempa atau getaran karena kereta, kedengeran juga dari speaker masjid yang asalnya pupujian jadi allahu akbar allahu akbar gitu. Ah pasti ini fix gempa! Aku langsung buka kunci pintu terus lari ke teras rumah. Di luar rumah emang lagi pada rame. Aku diem sambil ketakutan. Pas aku udah di luar pun, dinding masih bergetar. Gak lama akhirnya udah gak gempa lagi. Aku duduk di kursi teras. Update status WA haha (ampun ya orang jaman now ada gempa malah langsung update) sambil ngecheck twitter dan sosmed lain nyari informasi tentang gempa barusan. Ternyata emang gempa guys! Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter jam 19.03 lokasinya 147 km Barat daya Sumur, Banten dan berpotensi tsunami. Innalillahi. Saking besarnya kekuatan gempa sampe kerasa ke Yogya dan Kebumen gitu lho katanya. Aku terus ngescroll sosmed buat cari tau terus soal gempa sampe akhirnya udah ga panic dan balik lagi masuk ke rumah meskipun tetep ngerasa takut. Aku WAan sama teteh biar mereka cepet balik. Parno guys sendirian di rumah dalam keadaan kayak gini haha.

Informasi gempa dari BMKG
(sumber twitter)


Gempa di Banten kemarin mengingatkan aku sama bencana gempa vulkanik dan tsunami yang terjadi Bulan Desember 2018 lalu di Banten dan Lampung. Rasanya baru 7 bulanan lalu mereka dapat musibah gempa tsunami dan kalo sekarang tsunami itu jadi bencana lagi buat mereka, kasian banget. Dalam rentang waktu 7 bulan ini mungkin masyarakatnya udah ada yang kembali membaik kehidupannya dari segi fisik, mental dan materi tapi mungkin juga ada yang masih trauma misalnya atau ada yang rumahnya rusak dan belum mendapatkan rumah yang bagus seperti sebelum kejadian bencana. Untungnya Alhamdulillah tsunami gak terjadi. Ada beberapa rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa tapi gak separah bencana tsunami waktu itu. Alhamdulillah Alhamdulillah. Semoga aku, kamu dan mereka dilindungi selalu oleh Allah. Aamiin.

Sumur, sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Begitu denger nama tempat itu dan bencana yang terjadi di sana aku jadi terenyuh karena Sumur menjadi salah satu tempat yang ada di memori dunia kuliahku. Apa kabar sekarang, Sumur? Pertama kalinya (dan semoga bukan yang terakhir kalinya) datang ke Sumur Banten pas KKL (Kuliah Kerja Lapangan) tahap 2 tahun 2014 bareng teman-teman seperjuangan angkatan 2012 dan dosen-dosen Pendidikan Geografi. Fyi KKL itu semacam praktikum lapangan, mengobservasi lingkungan dengan tema tertentu. KKL tahap 1 tahun 2013 lalu lokasinya di Yogyakarta mengambil tema pariwisata dan ekonomi kreatif sedangkan KKL tahap 2 ini temanya eksotisme Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Jadi kami mengeksplorasi TNUK untuk mengungkap keeksotisannya. Lokasi basecamp sekaligus penginapan kami berada di Desa Tamanjaya, desa yang berbatasan langsung dengan TNUK. Tempat penginapan yang kami tempati buat tidur itu bukan penginapan asli, motel apalagi hotel ya. Kami menginap di sebuah rumah warga yang cukup luas dan bisa muat ditempati sama sekitar 40an perempuan sedangkan laki-lakinya tidur di rumah sebelahnya. Lokasi rumahnya deket banget sama pantai. Keluar rumah bakalan langsung terlihat pemandangan pohon kelapa yang tinggi-tinggi, pantai dengan batu karang dan dermaga kecil. Kami tiba pas sore hari jadi indah banget bisa menyaksikan sunset di sana.

Senja di depan basecamp
(dok. pribadi)

Banyak pohon kelapa di depan basecamp. Bisa joget-joget iindiaan nih :D
(dok. pribadi)

Kegiatan KKL tahap 2 kami di sana diadakan selama 3 hari. Hari pertama, Jumat 23 Mei 2014 kami mengobservasi kondisi fisik dan social yang ada di sekitar desa Tamanjaya. Semua temen-temen mahasiswa dibagi per kelompok dan langsung menyebar ke berbagai tempat dengan membawa instrumen sesuai tema. Ada yang meneliti kondisi tanah, ada yang mewawancarai masyarakat sekitar, ada yang meneliti kondisi air dan lainnya. Kalo aku sama temenku, Intan kebagian mengobservasi cuaca yang ada di sana. Kami menggantungkan thermometer di sekitar halaman basecamp terus seharian itu kami mencatat suhu yang tercantum di thermometer dan juga mencatat kondisi awan tiap jam. Jadi dari pagi sampe sore kami Cuma duduk, mengamati thermometer dan langit, mencatet sambil foto-foto di pinggir pantainya, gitu aja terus sambil nunggu temen-temen yang lain pulang. Bosen sebenernya karena aku jadi gak bisa jalan-jalan liat kondisi sekitar desa itu tapi ya mau gimana lagi! Btw aku sama Intan gak bisa jauh-jauh main di pantainya. Selain karena nungguin thermometer, juga karena ada isu katanya deket pantai ada muara sungai yang suka muncul buaya di sana. Wa serem dong makanya kami gak berani main jauh-jauh.

30 derajat celcius, kapten!
(dok. pribadi)

Pengamatan suhu dan kondisi perawanan sambil foto-foto di sisi pantai
(dok. pribadi)

HAH! Keong!
(dok. pribadi)
Hari kedua, Sabtu 24 Mei pagi-pagi kami udah bangun, packing dan siap-siap karena kami mau mengeksplorasi TNUK. Yeayyy! Dari basecamp, menggunakan mobil bak terbuka kami didrop sampai tempat masuk TNUK. Di sinilah kami memulai perjalanan. Kami masuk ke hutan TNUK dengan disambut pepohononan tinggi besar dan semakin masuk ke dalam floranya semakin beragam. Kami tracking menyusuri hutan TNUK mengamati flora dan fauna yang ada di sana. Selain flora khas hutan hujan dataran rendah, kami nemuin jejak kaki badak. Ya TNUK jadi lovely home-nya badak jawa yang hampir punah. Di TNUK ini ada Javan Rhino Study and Conservation Area(JRSCA) yang bertujuan untuk melindungi badak jawa yang hampir punah dan melestarikan habitatnya. Hasil monitoring tahun 2013 oleh petugas TNUK badak jawa hanya ada 58 ekor. Itu tahun 2013, apa kabar 2019 sekarang? Semoga makin banyak ya, bukan hanya ada di kemasan kaleng larutan aja.

Informasi dari slide PPT saat presentasi petugas TNUK tentang Badak Jawa
(dok. pribadi)

Guide-nya bilang kalo kami beruntung bisa ngeliat jejak kaki badak karena ya badak ini tipe hewan introvert dan susah ditemuin jadi ya nemu jejaknya aja udah bagus banget.

Do you see that??
(dok. pribadi)
Beragam jenis tumbuhan bisa kita temui di dalam hutan seperti anggrek, tanaman menjalar, pakisa-pakisan dan lain-lain.Sepanjang perjalanan kami gak ngerasa kepanasan karena pepohonannya cukup rapat jadi bikin teduh. Pemandangannya indah, di sebelah kiri ada hutan hujan tropis dengan pepohonan yang tinggi besar, di sebelah kanan ada pantai dengan vegetasi bakau. Paling degdegan pas kita menyeberang sungai menggunakan jembatan bambu yang super duper seadanya. Mesti satu-satu ngelewatnya kalo gak mau ambyar ke sungai. Jalannya juga harus hati-hati karena ada akar-akar pohon yang menjalar dan menghalangi jalan kami. Salah salah bisa jatuh deh.

Awas kesandung!
(dok. pribadi)

Kalo kamu gak hati-hati, bisa jatuh ke sungai nanti
(Dok. pribadi)

Ayo, hati-hati
(dok. pribadi)

Vegetasi mangrove
(dok. pribadi)
Gak terasa kami jalan udah jauh banget. Menyusuri hutan tepi pantai utara TNUK kami belok ke tengah terus bergerak ke selatan dan sampailah di sebuah pantai yang masih perawan. Pantai Karang Ranjang. Asli ini pantai bagus banget. Suasananya masih sepi, pasirnya lembut, suara deburan ombaknya yang kenceng khas pantai selatan. Kami foto-foto di sana meskipun panasnya buanget. Yaiyalah tengah hari kami baru nyampe sana.

Vitamin Sea :*
(dok. pribadi)

Foto-foto dulu gaisssss
(dok. pribadi)

Memandangi laut selatan dengan deburan ombak yang gejebur gejebur
(dok. pribadi)
Setelah makan bekal siang dan solat, kami balik lagi menyusuri rute perjalanan yang tadi buat balik lagi ke basecamp. Mendekati basecamp kaki kami udah kerasa pegel banget. Kami dikasih tau kalo tracking tadi jaraknya 14km pulang pergi. What the! Jadi dari pintu masuk TNUK sampe pantai Karang Ranjang kami jalan kaki 7 km dan balik lagi sepanjang 7 km. Woaawww hebat ya kami ternyata bisa sekuat itu tracking.

Jalur hiking 14 km bolak balik dari Tanjung Lame ke Karangranjang. Bayangin dah capenya.
(peta oleh Beti nur Baeti link)

Alhamdulillah temen-temen yang lain gak mengalami kendala yang parah kayak pingsan atau sakit, yapaling pegel sama lecet doang. It was amazing journey sih menurutku. Gak semua orang bisa berkesempatan punya pengalaman seperti ini. Perjalanan 14 km di hari kedua KKL tahap 2 ini ditutup malam harinya dengan pegel pegel dan kegerahan di kamar basecamp. Eitsss tapi kami harus tetap kuat dan sehat karena di hari ketiga kami akan berpetualang lagi ke tempat eksotis lain di TNUK. Cerita lengkapnya nanti lagi yah di part 2 ...


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih ya sudah baca artikelnya. Ayo berkomentar. Tinggalkan jejak di sini ^^

Subscribe