Novel Tambora: Ketika Bumi Meledak 1815 (2015)

April 22, 2020

Hola!

Udah lama banget gak ngereview buku. Entahlah, sejak SMA minat bacaku tuh menurun padahal dulu waktu SMP seneng banget baca. Tiap minggu ke perpus daerah buat minjem buku, kalo lagi libur atau gabut suka diem di perpus daerah bahkan sampe baca novel harry potter aja bisa beres dalam beberapa hari. Setelah kenal hape dan gadget lain yah jadi agak males buat baca. Baca novel sih masih, beli buku-buku di gramedia atau pameran buku juga lumayan pernah beberapa kali waktu dulu kuliah tapi ya gitu kebanyakannya disimpen dan belum dibaca-baca. Hfffttt kemanakah Ve yang duluuuuuuuu ><

Selama masa karantina ini jadi agak bosen mau ngapain. Nonton film atau drakor bosen, sosmedan juga itu² aja, akhirnya ku putuskan buat baca novel aja dan yang kupilih adalah novel yang judulnya Tambora. Buku ini udah lama banget aku beli, pas kuliah. Beli karena tertarik sama judulnya yang ada geografi-geografinya gitu, bahas gunung Tambora tapi ada alur ceritanya. Baiklah, setelah aku baca dalam waktu 3 minggu haha banyak pendingnya ini aku baca. Baca beberapa hari, bosen simpen dulu, lanjut baca lagi sampe beres. Inilah review nya!

Cover Novel Tambora (dokpri)

Judul           : Tambora, Ketika Bumi Meledak 1815
Penulis        : Agus Sambodo
Penerbit       : PT Kaurama Buana Antara
Tahun terbit : 2015
Tebal buku   : 347 halaman

Lesly, seorang perempuan dari Rhode Island menemukan sebuah tengkorak kepala manusia dan kopiah emas di museum pribadi ayahnya. Thomas Wilson, ayahnya adalah seorang profesor arkeologi di Universitas Rhode Island dan sibuk dengan penelitian-penelitian arkelogi di berbagai tempat. Lesly semakin terperanjat kaget karena saat ia menemukan benda kuno itu lalu meletakkan kopiah emas di atas tengkorak kepala manusia, tiba-tiba muncul sosok wajah misterius samar-samar dengan cahaya putih kekuning-kuningan yang berkata kepada Lesly untuk mengembalikan benda itu ke tempat asalnya. Benda itu sebenarnya adalah benda artefak yang ditemukan oleh Thomas Wilson saat melakukan sebuah ekspedisi penggalian tiga kesultanan yang terkubur oleh letusan gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Diperkirakan tengkorak tersebut merupakan tengkorak seorang bangsawan atau bahkan raja yang meninggal sewaktu Tambora meletus tahun 1815.

Kejadian itu terus mengganggu pikiran Lesly hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk meminta izin kepada ayahnya untuk mengembalikan benda itu ke Indonesia. Setelah disetujui akhirnya ia dan Jeff, temannya terbang menuju Indonesia tepatnya ke Pulau Sumbawa. Perjalanan mereka selama di Pulau Bali dan Sumbawa ditemani oleh Uma dan Wayan. Setelah menceritakan alasan kedatangan mereka ke Indonesia, Lesly memperlihatkan artefak itu dan saat kopiah emas dan tengkoraknya dipasangkan, mereka berempat melihat sosok misterius dari benda itu muncul lagi. Kali ini mereka menyebutnya Orang Sakti. Orang Sakti lah yang akan memandu mereka menuju tempat asal artefak itu karena sebenarnya Lesly dan Jeff sama sekali belum mengetahui akan diberikan kepada siapa benda artefak itu.

Saat perjalanan di Pulau Sumbawa menuju Gunung Tambora, tiba-tiba Lesly, Jeff, Uma dan Wayan terbawa melalui lorong waktu menuju tahun 1815 sebelum Gunung Tambora meletus. Dengan kekuatan Orang Sakti, mereka terdampar di lereng Gunung Tambora. Petualangan Lesly, Uma, Jeff dan Wayan dimulai. Mereka berkeliling ke 3 daerah kesultanan tersebut dan menyaksikan berbagai kejadian yang terjadi sebelum Gunung Tambora meletus. Di tahun 1815 ada tiga kesultanan di sekitar Gunung Tambora yaitu Kesultanan Tambora, Pekat dan Sanggar. Waktu itu Belanda sudah menginjakkan kaki di sana dan berusaha menjajah rakyat sana. Meskipun masih ada kesultanan, namun rakyat di sekitar Gunung Tambora menderita karena sultan tidak memimpin dengan baik akibat diadu domba oleh Belanda. Sering terjadi perang saudara antar kesultanan dan rakyat diperbudak menjadi buruh petani kopi di lereng Tambora. Berbagai tragedi disaksikan langsung oleh keempat orang itu hingga akhirnya Gunung Tambora pun meletus dan mereka kembali ke alamnya yang sekarang lagi.


Beres juga aku baca novel ini meskipun lama beresnya hehe. Well, sebagai anak Geografi yang sempet ke sekitar Gunung Tambora, Pulau Sumbawa aku ngerasa penasaran juga sama novel ini. Gimana sih sejarah dipadukan dengan cerita fiksi. Alur ceritanya lumayan cepet sih di awal. Dari 29 bab, di bab ke-4 udah diceritakan tentang keempat sekawan itu yang kembali ke tahun 1815. Setelah itu alurnya terus mengalir menceritakan keadaan rakyat di masa itu, pengaruh Belanda, perang saudara dan lainnya. Perpaduan antara sejarah dan fiksi cukup bagus. Cerita pas adu domba Belanda kepada 2 kesultanan yaitu Pekat dan Tambora bikin emosi gitu bacanya karena ternyata memang ada orang pribumi yang jahat banget mau membantu Belanda mengadu domba 2 kesultanan, padahal mereka orang pribumi lho tapi demi harta mereka bisa sejahat itu. Gak heran ya kalo jaman sekarang juga ada manusia-manusia kayak gitu. Duri dalam daging.

Latar tempat dan budaya-budaya yang ada di sana cukup dijelaskan dengan baik cuma aku masih nemuin plot hole di novel ini. Gak dijelaskan gimana dan dimana benda artefak itu waktu diberikan ke Orang Sakti. Aku kira artefak itu bakal jadi benda penting yang akan berpengaruh di sepanjang alur, ternyata cuma sebagai 'kunci' yang membawa mereka ke masa lalu. Menurutku tujuan Orang Sakti membawa mereka ke masa itu untuk mencari makna di balik setiap kejadian, karena selama petualangan itu mereka cuma bisa menyaksikan, ga bisa ikut campur, meskipun mereka tetap bisa berinteraksi dengan orang-orang sana.

Namanya kisah semi fiksi ya kayaknya gak lengkap kalo gak ada bumbu-bumbu romantisnya. Di sepanjang alur cerita diceritakan kalo Lesly tertarik sama Uma. Layaknya gadis Amerika yang agresif, Lesly suka curi-curi perhatian gitu ke Uma tapi karena Uma ini ditokohkan sebagai pemuda yang agamis jadi ya diem-diem bae, gak nolak tapi gak ngerespon juga haha. Gemes sih, nanggung aja gitu rasanya. Ya tau sih, mungkin biar lebih fokus ke cerita petualangan mereka tapi ah ya gimana, nanggung menurutku haha.

Makna-makna kehidupan dari novel ini bagus terutama pas bab Alam Ayat Hayat yang diucapkan oleh Orang Sakti dan harus dicari tau sendiri maknanya oleh Lesly, Uma, Jeff dan Wayan. Beruntung Uma ini dijelaskan sebagai orang dengan pola pikir yang luas dan bijak sehingga dengan bantuan Lesly ia bisa tau makna dari Alam Ayat Hayat itu.
"Kalau alam kehidupan ini merupakan kumpulan ayat, ayat siapa? Kalau alam ini jelas milik Tuhan, berarti ayat-ayat kehidupan juga ayat-ayat Tuhan. Artinya, kehidupan ini sebenarnya adalah ayat-ayat Tuhan yang harus dibaca."

Oya, meskipun latar sejarah cerita ini adalah kesultanan yang merupakan agama Islam, tapi penulis kayaknya berusaha untuk memasukkan keberagaman dan toleransi dari segi agama karena diceritakan kalo Uma seorang muslim, Lesly dan Jeff non muslim dan Wayan seorang Hindu. Saat Uma menjelaskan kepada mereka soal makna dalam Islam, mereka mengerti. Terus pas adegan yang mana lagi gitu lupa pokoknya ada adegan mereka berdoa dengan keyakinan mereka masing-masing. Apapun keyakinan, ras dan latar belakang mereka, keberadaan mereka di masa itu adalah sama, mencari makna dari setiap kejadian sebelum Tambora meletus.

Nah, sampai juga di akhir review. Aku cukup terhibur dengan novel ini, apalagi pas Desa Pancasila disebutin, eh kok kayak pernah kenal. Ternyata aku pernah ke sana waktu KKL tahun 2015 hehe. Jadi pengen cerita soal KKL ke Lombok-Sumbawa nih. Lain waktu yaaa..

8/10 untuk Tambora: Ketika Bumi Meledak Tahun 1815.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih ya sudah baca artikelnya. Ayo berkomentar. Tinggalkan jejak di sini ^^

Subscribe