Waktu nemenin anak-anak mading kemarin-kemarin, aku denger obrolan mereka soal cerita pertama kali kenal dan jadi temen. Ada yang kenal garagara kucing, ada yang kenal pas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) dan ada juga yang gak inget momen pertama kali kenalan. Dari obrolan mereka aku jadi ngeh kalo aku gak pernah ngobrolin tentang ini sama temen-temen aku. Gimana momen pertama kali ketemu dan menjalin hubungan pertemanan sama mereka, tapi kayaknya aku masih inget deh kalo sama orang yang bener-bener deket sama aku. Momen pertama kali berkenalan kemungkinan besar menentukan kesan yang timbul setelahnya, tapi gak semuanya ya karena bisa aja kesan dan persepsi kita berubah setelah mengenal kepribadian orang itu lebih jauh. Tapiii lagi kesan pertama itu penting sih karena gimana orang lain mau tertarik sama kita kalo kesan pertama yang kita berikan itu jelek misalnya? So, balik lagi ke kepribadian kita sih. Buatlah kepribadian kita lebih baik dan menarik sehingga kesan pertama kita saat bertemu orang lain itu jadi lebih menyenangkan..
Yak! Udah hampir 5 bulanan berlalu setelah terakhir aku nge-review film. Selama 5 bulanan ini sih ada banyak film yang aku tonton tapi belum sempet aku bikin reviewnya. Selain karena males, ya karena males wkwkwk. Alasan paling klasik tapi beneran males selama ini ngeluangin waktu buat nulis review doang. Iya sih, emang gak bakal dibaca sama banyak orang tapi seenggaknya dengan aku mereview film yang aku tonton, aku jadi inget film apa aja yang udah aku tonton, gimana jalan ceritanya dan kesan aku terhadap film itu. Itung-itung belajar nulis lagi sih ini mah. Oke, langsung cus aja ke review-nya ya.
Cerita berawal dari Hwang Woo Yeon (Kim Young Kwang), seorang guru olahraga yang dapet surat undangan di meja kerjanya. Ternyata undangan itu dari Hwan Seung Hee (Park Bo Young), cinta pertamanya sejak di bangku sekolah. Ya namanya juga first love, memorinya jadi balik lagi ke masa-masa sekolah saat pertama kali dia ketemu sama Seung Hee. Momen pertama kali mereka ketemu sih cukup unik ya karena waktu itu Woo Yeon lagi dihukum guru sementara Seung Hee datang ke kantor sekolah sebagai murid baru. Love at the first sight happen! Woo Yeon jadi ngedeketin Seung Hee dan lama kelamaan mereka jadi makin deket. Kemana-mana berdua sampe akhirnya mereka sempet kissing. Aww!
Suatu ketika Seung Hee dan Woo Yeon sempet terpisah. Gak ada kabar dari masing-masing hingga akhirnya mereka ketemu lagi di universitas yang sama. Woo Yeon termotivasi buat masuk kuliah garagara Seung Hee. Pertemuan mereka bikin Woo Yeon jadi bahagia lagi tapi sayang Seung Hee udah punya pacar. Ya Woo Yeon bisa apa dong selain kzl sendiri tiap ngeliat Seung Hee sama pacarnya. Hubungan mereka mulai jadi agak renggang setelah Woo Yeon ngasih tau Seung Hee kalo pacarnya itu cuma mempermainkan dia aja, bahkan ada momen saat Woo Yeon mukul pacarnya Seung Hee saking kesalnya cewek yang dia sukai malah dipermainkan sama cowok lain.
Siang itu jembatan bambu yang melintang di atas sungai muara terlihat rapuh dan menakutkan untuk diseberangi. Satu persatu kaki mulai menjejak di atas jembatan bambu itu dengan perasaan waswas dan takut terjatuh karena di bawah sana arus sungai terlihat tenang tetapi siapa yang tahu keberadaan si predator buaya yang siap menerkam itu di bawah permukaan air sungai. Perlahan tetapi pasti akhirnya sampai juga di seberang sungai muara. Sambil menunggu teman-teman yang lain melewati jembatan, mata ini tertuju pada sosok makhluk kecil nan mungil yang melompat-lompat di atas lumpur pinggir sungai. Tergelitik rasa penasaran, kulihat lebih seksama hewan itu dari jarak dekat. Hewan itu sangat lincah meloncat kesana kemari sehingga sulit untuk diamati secara jelas. Hewan itu mempunyai ukuran yang kecil, matanya menonjol di atas kepala, mempunyai sirip yang digunakan seperti kaki. Sekilas terlihat aneh karena ekornya mirip dengan kecebong tetapi sebenarnya hewan ini termasuk keluarga ikan.
Ikan glodok, itulah sebutannya. Nama latin dari spesies ini adalah periophthalmus sp atau nama lainnya adalah mudskipper (si peloncat lumpur). Mengapa disebut si peloncat lumpur? Ketika perairan surut ikan ini lebih senang menghabiskan waktunya dengan meloncat-loncat di daratan lumpur untuk mencari makan, sedangkan ketika perairan pasang, ikan ini akan berlindung di dalam sarang berupa lubang-lubang lumpur yang mereka buat. Habitat ikan ini berada di daerah ekosistem mangrove dan persebarannya berada di daerah ekosistem mangrove tropis dan subtropis.
Memang benar. Saat aku menemukan dan mengamati ikan itu memang laut sedang dalam kondisi surut sehingga debit air di muara sungai terlihat lebih sedikit dan memunculkan lumpur keabu-abuan. Di sanalah tempat ‘bermain’ bagi ratusan ikan glodok ini. Suatu hiburan tersendiri melihat makhluk kecil itu meloncat kesana kemari karena perasaan aneh, takjub dan baru pertama kali melihat hewan seperti itu. Sayangnya karena pergerakan ikan glodok ini sangat lincah sehingga menyulitkan untuk mengabadikan mereka lewat lensa kamera.
| Menyeberangi jembatan bambu yang rapuh (Sumber: Doc pribadi) |
Ikan glodok, itulah sebutannya. Nama latin dari spesies ini adalah periophthalmus sp atau nama lainnya adalah mudskipper (si peloncat lumpur). Mengapa disebut si peloncat lumpur? Ketika perairan surut ikan ini lebih senang menghabiskan waktunya dengan meloncat-loncat di daratan lumpur untuk mencari makan, sedangkan ketika perairan pasang, ikan ini akan berlindung di dalam sarang berupa lubang-lubang lumpur yang mereka buat. Habitat ikan ini berada di daerah ekosistem mangrove dan persebarannya berada di daerah ekosistem mangrove tropis dan subtropis.
Memang benar. Saat aku menemukan dan mengamati ikan itu memang laut sedang dalam kondisi surut sehingga debit air di muara sungai terlihat lebih sedikit dan memunculkan lumpur keabu-abuan. Di sanalah tempat ‘bermain’ bagi ratusan ikan glodok ini. Suatu hiburan tersendiri melihat makhluk kecil itu meloncat kesana kemari karena perasaan aneh, takjub dan baru pertama kali melihat hewan seperti itu. Sayangnya karena pergerakan ikan glodok ini sangat lincah sehingga menyulitkan untuk mengabadikan mereka lewat lensa kamera.
Aku baru saja penasaran pada judulnya, pada covernya. Monolog-monolog lirih terus tersurat pada halaman-halaman awal hingga membawaku pada halaman 45. Ceritanya terlihat menarik. Membuatku penasaran. Ku teruskan membacanya sampai aku terpesona. Malu-malu ku tersenyum sambil membacanya. Kemudian saat sampai pada halaman 52, aku bingung. Kenapa ceritanya mulai menyedihkan kalbu? Padahal belum lama aku tersipu malu. Kenapa sepertinya halamannya akan tipis? Apa tidak akan sampai 365 halaman? Oh ayolah.. Lanjutkan kembali halamannya. Buatku terus membaca sampai terpukau dengan ceritanya. Buat aku larut dalam ceritanya seolah-olah aku adalah bagian dari cerita itu juga. Tapi apa bisa? Apakah cerita ini akan terus menjadi buku berhalaman-halaman tebal? Atau cuma cerita cheesy ala ftv sctv? Entahlah..

